Direktorat Guru Pendidikan Dasar Persiapkan Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artificial (KKA) tahun 2026.
Kemendikdasmen, Februari 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru Pendidikan Dasar mengadakan Kegiatan Penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Berbasis Jenjang pada 26 s.d. 28 Februari 2026 di Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menyediakan panduan pelatihan yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran di setiap jenjang pendidikan dalam rangka persiapan pelaksanaan pelatihan KKA tahun 2026.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan serta Pendidikan Guru lintas jenjang, perwakilan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, staf khusus menteri, dan mitra seperti MAFINDO. Kehadiran berbagai pihak ini mencerminkan semangat kerjasama antar unit dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pendidikan yang responsif terhadap perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya, Direktur Guru Pendidikan Dasar menegaskan bahwa penguatan koding dan kecerdasan artifisial bukan hanya tentang menguasai keterampilan teknis. Ini juga berkaitan dengan penguatan kemampuan pedagogis dan etika digital. Guru diharapkan bisa membantu siswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pemikir kritis yang sadar akan dampak sosial dari teknologi berbasis kecerdasan artifisial.
Melalui forum ini, para peserta bersama-sama menyusun kerangka kompetensi pelatihan yang disesuaikan dengan karakteristik guru di pendidikan dasar. Diskusi berfokus pada evaluasi pelaksanaan bimtek di tahun 2025, penyusunan materi, strategi pembelajaran, skema pelaksanaan pelatihan, dan mekanisme evaluasi yang terukur dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis jenjang penting agar materi yang disusun kontekstual dan proporsional.
Dengan kegiatan penyusunan Juknis ini, Direktorat Guru Pendidikan Dasar menegaskan komitmennya mendukung transformasi pendidikan yang mengarah ke masa depan. Diharapkan, dokumen Petunjuk Teknis yang dihasilkan akan menjadi dasar bagi pelatihan berkualitas yang berkelanjutan. Ini akan memperkuat peran guru sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan era kecerdasan artifisial.